Direkt zum Hauptbereich

Tanpa Rasa



Mengapa semua harus bertema
Disaat alur cerita sudah tak lagi dapat berterima
Seringkali berkata diakhiri satu tanda tanya
Tanya yang tak pernah berhenti diujung kata


Lalu mengapa
Bila senja tiap tiap orang merangkak tuk berkata
Terpetik kata rayuan yang meradang rindu
Tampak raut wajah meriuh malu malu


Karna bila bulir banyak menggenang
Tertanda ia menyampaikan cerita
Tunggulah sampai rintiknya habis membasahi atapmu


Karna bila lantas kau mengeluh
Pabila rintik hujan membumi
Senyummu berubah menjadi dua garis kerutan
Yang menggaris lekung ke arah bawah


Lalu mengapa
Saat langit merah merona
Semua nampak berseri bahagia
Seakan cerita duka berubah dalam hitungan detik saja


Lalu mengapa cerita yang kau punya
Terdekap dalam pikirmu
Seperti sejarah yang benar ada
Namun tiada satu orangpun yang merasa

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna