Direkt zum Hauptbereich

Part III: Mengudara



Asap mengepul, menjalar keluar melalui celah
Beriringan mengehantam lalu langan angin
Mengudara, melepaskan setiap pekat hitamnya
Bebas melayang, berhamburan tak menentu


      Aku teringat kala doa yang pernah kupendam sebelumnya, pergi menembus langit dan kembali pada genggam dua tangan yang sedang menjulur terbuka. Doaku mengudara, memenuhi satu mimpiku yang sampai saat ini takan kulupa. Mungkin ada pula doa lainnya yang berjalan sama, mengalur sebuah rangkaian perjalanan panjang jauhnya sampai ia mengudara hingga menepi pada sang Pencipta.

      Beberapa kali aku lupa akan hal itu, doaku memang kubiarkan mengudara, tapi tidak dengan cara yang sama. Lewat tangan manusia harapanku disimpan dan terdiam sendirinya. Meski terkadang aku teringat cara lama, sebagai manusia diriku tak ayal pelupa. Membiarkan kejadian terus-terusan berulang pada tumpuan tanpa asa.

      Kali ini aku membiarkan apapun yang ada, berjalanan pada satu garis lurus yang aku harapkan. Seolah berharap takdir menemuinya di ujung perjalanan. 

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna