Direkt zum Hauptbereich

Posts

Tanya

Ada yang ingin kutanyakan seketika Sebelum aku membuka halaman yang kau maksudkan Angka lima puluh empat Dua digit yang tertera Dari puluhan angka lainnya Yang kau tuangkan di dalamnya Seluruh curahan tentang isi hati dan kepalamu Aku masih tidak mengerti Tentu bukan dengan angkanya Yang kau pilih tuk menuangkan pikirmu Tapi dengan cara tersembunyi Yang telah kau beri tahu Di awal aku membaca kutipan kata-katamu Yang kau selipkan di minggu lalu Lalu  Apa kau akan menunggu Sampai aku benar benar selesai Dengan banyaknya kata Yang mungkin kau rangkai Menjadi bagian bagian utuh dan penuh Menjadi bagian yang teruraikan Dalam kebulatan

Lima Puluh Empat

Ada kalanya malam bersemi Tak satupun cahaya bintang ditemui diantara waktu manusia terlelap dan membelah sunyi Hanya hitam pekat yang kudapat Tampak tak ada tanda tanda pun darinya Suara dan kata yang melebur pada dentingan waktu Menyembunyikan seribu bahasa yang tampak nyata Namun bergaris semu Lalu aku mendapati pikir yang lalu lalang Berputar di atas kepala ini tanpa berbayang atau bersuara Hanya ada suara yang tak bermuara Perlahan yang tenggelam pada malam malam yang kian terlewati Aku sempat menuliskan sesuatu yang aku sebut guratan yang tertatan pada helaian kata yang kudapati tadi Entah apapun yang orang simpulkan Dan yang aku bingungkan manakala satu simpul yang tumpul dan berada pada alasnya Aku selesai Dan kau dapat temukan aku di halaman lima puluh empat Hendak pabila kau menyempatkan membaca buku bersampul coklat muda yang ku sempat selipkan pada tasmu

Cerita Tentang Hujan dan Manusia

Lalu hujanpun datang Menyelinap melewati celah jendela dan ventilasi udara Menyapa apa kabar kamu Pada setiap sore dengan dinginnya yang membujur kaku Bersama gemetar pada setiap hembusan nafas yang melampaui jauh punggungmu Cerita tentang hujan Adalah satu rangka cerita yang kadang mungkin tercela Ada manusia yang tunggang langgang Tatkala ia datang menyapa di waktu kerjanya Seolah enggan bertegur sapa melihat rupanya yang tak berwarna Ada manusia sejumlah yang menggerutu Hadirnya yang kadang tak disangka Meruntuhkan sejumlah rencana Karna mereka tak mau peluh dan basah di akhir cerita Cerita tentang hujan Akan mungkin berujung pada segurat garis pena Bagi sebagian manusia dengan pikir dan logikanya Apa yang kau temui kala hujan menyapa Adapula yang kadang merasa Hadirnya membawakan semacam aroma Yang tak dapat dihirup untuk sebagian kecil lainnya Cerita tentang hujan Bukan hanya sebatas langit membasahi bumi Dengan ribua...

Belum Selesai

Ada yang tertanam dekat pada uraian makna yang jauh Ada makna jauh yang jauh terbenam bersama kata Ada kata yang terpenggal dan disebutnya rindu Ada rindu yang hanya mengapung Mengeras, menguap sampai ia terurai oleh hujan Manusia berlarian mencari jawaban yang sepadan Seakan garis hidupnya tergerus bersama arus filosofis Dan kata, ia yang akan selalu menghidupi Meski rangkanya tak pernah sama dan berjalan dinamis Setiap kali, manusia selalu menyebut dirinya lebih keras Jika dibandingkan hal lainnya Meski pada kesempatan lainnya Hanya merunduk tanpa kata Tertegun dan menelan rasa yang telah pait ditelannya Sisakan jiwa pada sesaknya kota Sejauh kesempatan mentari bertransformasi Menjadi kilauan cahaya yang berbeda Yang acapkali kita puja dan dikenang dalam senja

Berkontemplasi

Termenung menyendiri Pada satu bayang yang ditelusuri garis dan simponi dalam raut yang pekat Diam dan berdiri Sampai pada satu imaji yang selalu kembali pada putaran waktu yang berbeda Aku yang tertidur pada siang Yang terlelap tanpa bayang Lalu hujan datang menyapa Dihiraukannya angin yang tlah lama berlalu mengetuk pintu Hujan membawa ia pergi dari pikirnya Carut dan kalut berada dalam satu posisi Lantas sedikit menyisakan pikir Pabila siang hujan datang beriringan Aku yang tertegun Tersisa bingung yang terbawa dari tidur Berusaha pergi setelah lama menyelami waktu Yang masuk jauh ke dalam Hingga kembali tanpa apa apa

Tentang Senja

Kadang senja adalah tempat berkontempolasi Yang acapkali dirundung sendu Bagi para sebagian manusia Yang ingin menghilang dalam pikirnya Senja kadang penuh dengan sesak bersama terik ia berbayang pada putaran yang mengulang dan menghilang dan senja kadang beranjak sepi bersama secangkir kopi kala manusia menyendiri dan tengah berkecil dari sebagian hati Senja yang kadang tak ayal berubah menjadi kelabu Diratapinya langit abu dan berlinang rintikan hujan Yang turut berduka Menggenang rasa yang berwarna Senja kadang tak tahu Apa rasa yang kau rasa Dan adakah jiwa membayang Sebut saja kau barisan rindu menyeka diantara raut tatap yang lama tak ditemui senja Dan tenggelam ia bersama langit malam

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan