Direkt zum Hauptbereich

Lima Puluh Empat






Ada kalanya malam bersemi
Tak satupun cahaya bintang ditemui
diantara waktu manusia terlelap dan membelah sunyi
Hanya hitam pekat yang kudapat
Tampak tak ada tanda tanda pun darinya

Suara dan kata yang melebur pada dentingan waktu
Menyembunyikan seribu bahasa yang tampak nyata
Namun bergaris semu

Lalu aku mendapati pikir yang lalu lalang
Berputar di atas kepala ini tanpa berbayang atau bersuara
Hanya ada suara yang tak bermuara

Perlahan yang tenggelam pada malam malam yang kian terlewati
Aku sempat menuliskan sesuatu
yang aku sebut guratan yang tertatan pada helaian kata yang kudapati tadi

Entah apapun yang orang simpulkan
Dan yang aku bingungkan
manakala satu simpul yang tumpul dan berada pada alasnya

Aku selesai
Dan kau dapat temukan aku di halaman lima puluh empat
Hendak pabila kau menyempatkan membaca buku
bersampul coklat muda yang ku sempat selipkan pada tasmu

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna