Direkt zum Hauptbereich

Bungaku Telah Layu?


                                                        Sumber Gambar: Google


Dengan riangnya kudapati bibit bunga mawar

Yang telahku inginkan sejak lama

Aku ragu tuk menanamnya

Tapi aku coba saja

Lama lama

Ia tumbuh menjadi satu batang tanpa tunas

Walaupun tak ku siram dengan sendirinya

Hanya kubiarkan saja

Aku sadar, bahwa nantinya ia kan layu

Acuh saja tak tampak aku mempedulikan

Bahwa pikirku selalu tertuju pada

Ia kan berkembang dengan meronanya

Namun di hari sabtu itu

Kulihat bungaku layu

Patah tangkainya

Tanpa sebab yang kuketahui

Ya, bunga mawarku telah layu

Mekar merona di pagi hari

Namun padam tergeletak

Di sore yang hendak kusirami

Aku tak ingin begitu saja

Kuganti dengan melati

Mawarku telah lama ku impikan

Meski bisa saja aku cari benih yang baru

Hanya

Urusan bunga bagiku agak lain

Harus dari hati

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna