Direkt zum Hauptbereich

Salahkah Jika Aku Benci



Sumber Gambar: Google

 

Salahkah aku membencimu?

Bahkan saat aku hendak memulai

Aku takut akan rasa itu

Aku bodoh

 

Maksudku hanya mencari perhatianmu

Tidak dengan bermaksud aku menyebarkan

Ujaran ujaran kebencian

 

Aku hanya merasa bahwa semua tidak adil

Sebab yang kau katakan bahwa aku adalah orang

Yang selalu ada pada sisi sebelahmu

Tergantikan dengan dia yang kau mau

 

Aku lelah dengan mengalah

Sampai pikirku kalap pada malam

Membayangkan apa apa

Yang tidak mestinya kau beritakan

 

Mungkin aku akan memulai membencimu

Jika pikirku itu lebih baik

Untuk tidak mencintaimu lagi

Bahkan aku pikir apakah aku mencinta

Pada dirimu yang sebenarnya tidak membalaskannya

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna