Direkt zum Hauptbereich

Untuk Mereka Agar Bersyukur


Lupakah kita untuk bersyukur

Pada umpatan dari hati yang terus melambung

Tanpa memaknai apa yang terjadi

Hanya ada kata dari hati

Yang terus merisaukan pikir


Lupakah kita untuk bersyukur

Sementara mereka di luar sana masi mengais pintu rezeki

Mengetuk hati setiap insan untuk sekadar memberi


Lupakah kita untuk bersyukur

Sementara masih banyak yang tak tahu jalan hidupnya

Terdekap dalam garis kemiskinan

Yang ada dipikirnya mungkin hanya nasi

Bagaimana kabar nasi hari ini, nanti sore

Nanti malam atau esok

Mereka takan pernah tahu kabar pastinya


Lupakah kita untuk bersyukur

Dalam helaian setiap nafas yang kita tarik

Dalam detakan jantung yang berdegup kencang

Dalam setiap tetesan keringat yang mengucur membahasi tubuh


Lupakah kita bersyukur ?

Yang ada hanya

Kita lebih senang berteman dengan kufur  


*Untuk mereka yang bekerja keras membanting tulang, agar bisa merasakan ramahnya dunia*

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna