Direkt zum Hauptbereich

Acak


Detak bunyi jarum jam pada dinding kuning

Beriring dengan semilir angin malam

Yang berbalapan masuk melalui ventilasi kecil kamar lantai tiga

Hari ini bulan bersinar pada purnama

Tampak menerangi

Gelapnya atap rumah merah

Yang terselimuti rindangnya dedaunan pohon nangka

Sejenak pikirku tertegun menuju buah nangka muda di ujung pohon

Nantinya ia kan matang dan jatuh

Dengan aroma khasnya itu

Lantas lamaku menunggu mungkin akan jatuh pula

Pada dentingan waktu yang tak tau kapan dan dimana

Bunga itu mekar bukan karna matahari yang setiap hari selalu datang

Bunga itu indah pada waktu lama yang telah ditunggu

Percaya anganku bukan pada menunggu

Namun pada waktu

Yang selalu memberikan makna pada menit yang dinantikannya itu

Sama halnya dengan nangka tadi

Ia yang selalu ditunggu begitu masak


Selepas kau santap baru terasa nikmatnya manis

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna