Direkt zum Hauptbereich

Posts

Sepenggal Kisah Manusia

  Cerita tentang seorang manusia Yang berjalan menelusuri cahaya mentari Mencari ia suatu makna yang diterimanya Sampai pada malam tak menyisakannya Sekelompok dari kita berlomba di atas dunia Berharap, bersimpuh, berdoa dan meminta Dan sampai tiba ia menguatkan hatinya di suatu masa Tuk menerima takdir dan apa yang kita sebut kenyataan Benarkah kita berupaya mencari mimpi  Atau hanya membenarkan sebuah dogma Pada pikiran yang hampa tanpa dosa Lalu hidup hanya dalam spekulasi kata Sadarkah kita yang haus pujian Dan bersembunyi dibalik alasan Bangga bahwa itu kita sebut tujuan Dengan lantang disuarakan Kesedihan adalah sebuah jalan Dalam bijak kita melihatnya seperti satu kesempatan tuk merenung Dalam keterpurukan itu tampak hanya kebuntuan Seolah tak ada lagi mimpi atau harapan Semua dari kita hanya pandai merangkai kata-kata Dan terkadang hidup dalam konteks berpura-pura Membohongi rasa tuk sebuah sanjungan Atau itukah memang jalan yang kita cari-cari Sanggupkah kita berdiri ...

Tanyaku

  Tanyaku pada waktu Adalah sekumpulan parafrasa Dalam sebait paragraf Tentang sesuatu keresahan Tanyaku pada rasa Mengaitnya untaian dialektika Logika menjadi tumpul Sebab rasa adalah tentang meragu Tanyaku pada sore Ia yang tak mau melepas rindu Menguburkan sunyi dalam jingga Mengobarkan asmara diantara anak manusia Tanyaku tak berhenti sampai hari ini Ia datang sejak kemarin dan takkan pergi sampai esok hari Tanyaku merangkai menjadi cerita Cerita tentang manusia dan tanya

Teka-teki

  Kini, kau membingkaikan Sebuah jalan dalam ruang dimensi Dari alur yang tersematkan bersama sesuatu yang kau lukiskan Pikiran dogmatis yang kau yakini Tertaut pada parafrasa Manusia hanya berencana Tuhan menentukkan Lantas bagaimana dengan literal dan satu semantisme Yang kau artikan melalui majas serta silogisme Seringkali kita menuntut Tugan Berharap pada kuasaNya Apa-apa yang berdasar idealisme Sempatkah kau menghitungnya, Sudah berapa? Mungkin kau berlaku biasa saja Bahkan berpura-pura lupa Menganggap sedang semua sewajarnya Kau sebagai hamba dan tugasmu meminta saja Kembali menepi lewat tanya Dengan judul teka-teki Apa yang kali ini kau minta Sampai masa-masa datang membawa Jawabanmu

Cukup Saja, Hari Ini

Hari ini, cukup saja seperti ini Hempaskan tubuhmu Biarkan ia tenggelam dalam malam Pergi menuju mimpi Kau lelah, aku tahu Nampaknya sunyinya malam Memberikan sedikit ruang untuk dirimu Menarik napas panjang dan menghela perlahan Hari ini, cukup saja Sampai pada waktu ini Terlelap dengan menuntaskan bacaan itu Menutup dengan tulisan sederhana Yang kusebut hari ini 

Konfiks

Kini kau telah tahu Seiring waktu yang dengan keterbukaan Pilu pada hari Yang selalu kau tunggu-tunggu Aku bersama sebuah ketidakaturan Berpijak pada kehampaan Dipeluknya aku pada ketumpuan Membiru tanpa aroma Membekas tanpa jejak Berdiri bersama kebimbangan Membawaku merasa de-ja-vu Kembali pada sebuah persimpangan Diawalinya arah pada jalan Dan berakhir dalam kebuntuan Bumi berotasi Entah telah berapa ratusan hari Ku pijakan kaki ini di atasnya Namun, ku tetap bersandar pada kebodohan Menemukan ketidaktahuan Setiap aku membuka lembar halaman Tanpa kesimpulan Lagi, dengan senyummu Yang kupikir kau tanpa perasaan Memikirkan sisimu saja Tanpa kau tahu sisi bagianku Yang mengikat kita pada keterpaksaan  Kosakatamu terguratkan dalam tulisan dengan pena biru di halaman awal buku Menyatukan ribuan parafrasa Merangkaikan tanda tanya itu Menjadi apa-apa Dalam konfiks

Ruang Percakapan

Seringkali aku terlibat Diantara percakapan-percakapan Yang membawaku pada ruang Dan dimensi dengan sebabnya Yang kau sebutkan kontemplasi Percakapan yang menuntutku  Mengerumuni tanya Dengan kata yang kumulai Tentang mengartikan sebuah mengapa Mengapa mempersempit ruang tanyaku Dari pikir sederhana yang kurenungkan Menganggap seolah semua mudah Tetapi tanpa disangka Sulit kiranya Sebuah kalimat dengan ragam tanda Bersamanya menjadi penghubung di ujungnya Membuatku menyampaikan sebuah mengapa Entah untuk berapa kalinya Dalam dimensi ini Yang telah kutegaskan Tanyaku sering melibatkan Tuhan Dengan prinsip eksistensi dan idealis Bernama iman Kita percaya ia Percaya dalam kontradiksi Darimu sebagai satu keraguan Kalimatku tak pernah berubah Selalu tentang tanya Tanpa pernah ku menemukan celah Untuk jawaban yang diinginkan

Kau dan Ketakutan

  Kau dan ketakutan Adalah sebuah lingkar dalam pertemanan Ia bagian dari pikirmu Dan telah kau sematkan Menjadi kawan hidup Bersama takdir Kau dan ketakutan Memperjuangkan harapan dan resah yang imajinasikan Bergelut dengan perasaan Mereka-mereka yang selalu  kau khawatirkan Kau tahu? Dalam kesendirianmu Nyatanya kau tak pernah sendiri Kecemasan dan kegelisahan Bahkan kerisauan Hadir menyelimutimu Untuk hidup Selalu bersama Ketakutan