Direkt zum Hauptbereich

Konfiks



Kini kau telah tahu

Seiring waktu yang dengan keterbukaan

Pilu pada hari

Yang selalu kau tunggu-tunggu


Aku bersama sebuah ketidakaturan

Berpijak pada kehampaan

Dipeluknya aku pada ketumpuan

Membiru tanpa aroma

Membekas tanpa jejak


Berdiri bersama kebimbangan

Membawaku merasa de-ja-vu

Kembali pada sebuah persimpangan

Diawalinya arah pada jalan

Dan berakhir dalam kebuntuan


Bumi berotasi

Entah telah berapa ratusan hari

Ku pijakan kaki ini di atasnya

Namun, ku tetap bersandar pada kebodohan

Menemukan ketidaktahuan

Setiap aku membuka lembar halaman

Tanpa kesimpulan


Lagi, dengan senyummu

Yang kupikir kau tanpa perasaan

Memikirkan sisimu saja

Tanpa kau tahu sisi bagianku

Yang mengikat kita pada keterpaksaan 


Kosakatamu terguratkan dalam tulisan

dengan pena biru di halaman awal buku

Menyatukan ribuan parafrasa

Merangkaikan tanda tanya itu

Menjadi apa-apa

Dalam konfiks

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna