Direkt zum Hauptbereich

Posts

Teka-teki

  Kini, kau membingkaikan Sebuah jalan dalam ruang dimensi Dari alur yang tersematkan bersama sesuatu yang kau lukiskan Pikiran dogmatis yang kau yakini Tertaut pada parafrasa Manusia hanya berencana Tuhan menentukkan Lantas bagaimana dengan literal dan satu semantisme Yang kau artikan melalui majas serta silogisme Seringkali kita menuntut Tugan Berharap pada kuasaNya Apa-apa yang berdasar idealisme Sempatkah kau menghitungnya, Sudah berapa? Mungkin kau berlaku biasa saja Bahkan berpura-pura lupa Menganggap sedang semua sewajarnya Kau sebagai hamba dan tugasmu meminta saja Kembali menepi lewat tanya Dengan judul teka-teki Apa yang kali ini kau minta Sampai masa-masa datang membawa Jawabanmu

Cukup Saja, Hari Ini

Hari ini, cukup saja seperti ini Hempaskan tubuhmu Biarkan ia tenggelam dalam malam Pergi menuju mimpi Kau lelah, aku tahu Nampaknya sunyinya malam Memberikan sedikit ruang untuk dirimu Menarik napas panjang dan menghela perlahan Hari ini, cukup saja Sampai pada waktu ini Terlelap dengan menuntaskan bacaan itu Menutup dengan tulisan sederhana Yang kusebut hari ini 

Konfiks

Kini kau telah tahu Seiring waktu yang dengan keterbukaan Pilu pada hari Yang selalu kau tunggu-tunggu Aku bersama sebuah ketidakaturan Berpijak pada kehampaan Dipeluknya aku pada ketumpuan Membiru tanpa aroma Membekas tanpa jejak Berdiri bersama kebimbangan Membawaku merasa de-ja-vu Kembali pada sebuah persimpangan Diawalinya arah pada jalan Dan berakhir dalam kebuntuan Bumi berotasi Entah telah berapa ratusan hari Ku pijakan kaki ini di atasnya Namun, ku tetap bersandar pada kebodohan Menemukan ketidaktahuan Setiap aku membuka lembar halaman Tanpa kesimpulan Lagi, dengan senyummu Yang kupikir kau tanpa perasaan Memikirkan sisimu saja Tanpa kau tahu sisi bagianku Yang mengikat kita pada keterpaksaan  Kosakatamu terguratkan dalam tulisan dengan pena biru di halaman awal buku Menyatukan ribuan parafrasa Merangkaikan tanda tanya itu Menjadi apa-apa Dalam konfiks

Ruang Percakapan

Seringkali aku terlibat Diantara percakapan-percakapan Yang membawaku pada ruang Dan dimensi dengan sebabnya Yang kau sebutkan kontemplasi Percakapan yang menuntutku  Mengerumuni tanya Dengan kata yang kumulai Tentang mengartikan sebuah mengapa Mengapa mempersempit ruang tanyaku Dari pikir sederhana yang kurenungkan Menganggap seolah semua mudah Tetapi tanpa disangka Sulit kiranya Sebuah kalimat dengan ragam tanda Bersamanya menjadi penghubung di ujungnya Membuatku menyampaikan sebuah mengapa Entah untuk berapa kalinya Dalam dimensi ini Yang telah kutegaskan Tanyaku sering melibatkan Tuhan Dengan prinsip eksistensi dan idealis Bernama iman Kita percaya ia Percaya dalam kontradiksi Darimu sebagai satu keraguan Kalimatku tak pernah berubah Selalu tentang tanya Tanpa pernah ku menemukan celah Untuk jawaban yang diinginkan

Kau dan Ketakutan

  Kau dan ketakutan Adalah sebuah lingkar dalam pertemanan Ia bagian dari pikirmu Dan telah kau sematkan Menjadi kawan hidup Bersama takdir Kau dan ketakutan Memperjuangkan harapan dan resah yang imajinasikan Bergelut dengan perasaan Mereka-mereka yang selalu  kau khawatirkan Kau tahu? Dalam kesendirianmu Nyatanya kau tak pernah sendiri Kecemasan dan kegelisahan Bahkan kerisauan Hadir menyelimutimu Untuk hidup Selalu bersama Ketakutan

Sebatas Pagi

  Aku hanya hidup sampai pukul sembilan pagi Tertanggalkan fajar sebatas romansa Menyapa ia lantas pergi seketika Hendak pamit tanpa meninggalkan senyum Siangku hanya sebatas mimpi Tanpa ada iring-iringan keramaian Duniaku hanyalah sepi Kala bayang berada tepat dengan titik Tanpa ada kata penghubung Warna senja ia berada Dilukiskannya raut matamu Merona dibalik tirai hitam Yang perlahan tertutupi hitam legam Urai rambut panjangmu Saat bersama malam Kau bangunkan aku dalam bayangmu Puluhan kosakata menghinggapi pikirmu Yang kulihat bagai tali panjang menumpuk Tak berujung dan tak terputus Rumit

Dunia Tak Pernah Berubah

  Apa kau tahu? Apa perbedaan dunia dan bumi? Tempat yang kau pijak sekarang ini Dan kau tumbuh besar dan berkembang Sampai tiba nanti ajalmu Menyatu lagi tubuhmu yang kaku Bersama tanah sebagai selimutnya Kau sebut apa ini? Duniakah atau hanya bumi? Pikirku mendebat kedua kata ini Awal mula kurasa dunia dan bumi Hanyalah sinonim yang bermaknakan sama Serta parafrasa yang kau tuliskan Pada ceritamu dalam diari berwarna ungu itu Satu waktu pernah kau katakan Jika aku berubah Dan kusebutkan kau jua berubah Kita berada dalam keterasingan Sebab asusmsi menyudutkan perasaan Menyampingkan logika Terhitung jutaan masa lamanya Bumi terbentuk dari ledakan Yang orang sebut begitu pada teorinya Hingga adam lahir dan diturunkan ia Sampai pada masa transformasi lima titik nol Dengan segala ragamnya Bumi mungkin berubah Tapi tidak dengan dunia ini Ia tetaplah sama Berdiri tegak nan kokoh Dengan tujuan dan takdirnya Sampai takkan ada lagi yang kita sebut dunia ini Mungkin begitu pertandanya