Direkt zum Hauptbereich

Mengungkapkan Garis Makna Pada Setiap Kata





Pada kata aku menyampaikan rasa
Dengan kata aku membagi cerita
Bersama kata aku berkarya
Menyimpulkan suatu asa dalam rangkainya

Jauh sebelum aku pandai bicara
Tanpa suatu pola yang terangkaikan manisnya majas
dan tertautkan
Riuh piluh tergabung utuh
Menjadi sesuatu yang tergambarkan
Bahwa kita tidak lebih dari hanya satu tanda baca
Berdiri setelah koma, lalu tanda tanya menanti di ujung kalimat sana
Tanpa tahu kapan titik akan tiba pada waktunya

Rangkaian kata dengan hanya sebatas ujung vokal yang sama
Bukan hanya menjelaskan garis rima yang berirama

Tapi kurangkum dalam sebuah larik
Yang menjelaskan aku kini banyak berbicara
Melalui kata yang dalam setiap helaiannya
Aku sisipkan beragam makna

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna