Direkt zum Hauptbereich

Hi, Jakarta




Aku masih harus bertanya
Disematkannya kata yang diakhiri dengan salah satu tanda baca
Yang mengkonotasikan nada tinggi dengan ujung tanda tanya
Atau memang aku punya banyak pertanyaan

Hi udara, hi kota, hi manusia
Tak mungkin logika mengalahkan rasa yang berbayang
Mereka hanya semu dengan tiap tiap nama besarnya
Lalu bagaimana dengan tanya?

 Berkecap, berdecak tanpa irama
Aku melayang di udara
Sampai ragu melambung dengan sendirinya
Membawa irama tertelan ramahnya ibu kota

Hi Jakarta, aku  kembali
Tidak tuk mengulang cerita yang pernah kau antarkan seperti sebelumnya
Walau selalu tertumpuk ada yang pincang bersama bayang
Kini semuanya kembali dengan tanya

Bersama hujan dan novel yang kubaca
Kurangkaikan kata demi kata
Lalu aku mengulang tanya
Mencari yang pernah kusebutkan perjalanan rasa

Secangkir teh panas perlahan menelan kata
Mengalahkan setiap ribuan rintiknya hujan yang membawa dingin
Dengan puluhan kali putaran lagu yang sama
Selalu, tiap kali kembali ke ibukota

Hi, Jakarta
Apa tanyaku nantinya
Bertemu pada jawab yang sebenarnya?

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tentang Kini

  Lama ku tak bersama sore Menikmati waktunya yang sekejap Mengalunkan senandung lagu Bercerita tentang kini Tentang kini Rasa yang perlahan memudarkan tanya Dari aku yang telah memulai untuk Kembali lagi membuka rasa Meskipun ketidaktahuan Membersamai apa-apa yang telah menjadi kini Menapaki hari esok selanjutnya Dengan pengharapan Aku tak tahu jika nanti Patah tumbuh kan hilang berganti Membedakan hari-hari  Dengan rasa yang tak lagi menjadi kini Yang aku tahu Hanya ada rasa saat ini Telah berhenti tuk berpatri Dan sedang ku nikmati

Just alive

  Mungkin ada banyak lagi aksara yang tak terbaca Masih banyak lagi lukisan yang tak pernah terlihat Banyak lagi irama yang tak terdengar Dan banyak lagi cerita yang tak terungkap Dewasa hidup pada hari-harinya dengan berjalan memutar Berotasi pada detik waktu yang terus berporos Meninggikan matahari dan lalu Menutupnya dengan malam yang gelap Dewasa kini hidup dengan rutinitas Seolah menjadi perangkap yang tak berujung Mendebatkan sisi idealis dan realis Lalu memberinya ruang kenyataan Apakah kini sesulit ini untuk bercerita? Seolah tak ada ruang untuknya bersandar Dewasa kini bukanlah tentang seberapa jauh melangkah Namun, tentang seberapa kuat ia bertahan Nyatanya dewasa kini ialah tentang kerapuhan Mereka hanya berpura-pura terlihat tampak baik Meski beban dibelakangnya melampaui batasnya Dan sialnya ia harus tetap memikulnya