Direkt zum Hauptbereich

Berbayang dalam Bayangan



Malam

Bersama ia yang terkalut

Berdiri tertatih mencari pijakannya

Ia yang larut

Pada bisingnya cahaya malam

Manusia pergi berlarian

Mencari udara malam yang panjang

Mencari keramaian

Untuk sekadar melepaskan penatnya yang tertahan

Dibalik satu senyuman yang kian memudar

Mengepak setinggi-tingginya

Dari bisingnya yang tlah lama tak terdengar

Sunyinya terbendung

Pada satu ujung pangkal udara

Tampak ingin meraung keras ke atas

Namun tertahan kebalnya ruang sepi

Akankah ia mendengar

Saat raungan itu terlampau menjauh

Yang seolah menujukan bahwa itu untuknya

Biarkan

Udara dingin yang hanya ingin menyampaikan salamnya

Tembok dinginnya tak terlihat akan runtuh terjatuh

Biarkan

Biarkan kakimu menopang dengan pikiran acuh

Biarkan

Biarkan manusia terkatuk mengantuk

Melepasnya pergi tertidur pada malam ini

Mungkin juga ceritanya berlanjut pada malam berikutnya

Nanti, dan juga nantinya lagi


*Teruntuk perempuan yang tak lagi dalam pelukan

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna