Direkt zum Hauptbereich

Posts

Satu Waktu di Tengah Malam

Dari ratusan detik yang tlah usai Tunjukan masam terselimut jemari Kaca tersayat tehembus gardu Menyingsingkan rasa terdahulu Aku datang membawa cerita Membaca dalam tawa yang lalu berkunjung hanya karna satu kata Aku bertanya tanya Namun bukan pada rumput yang ditanam di belakang rumah tua Lagi semua terjebak dalam logika Menggantikan rasa Di suatu senja yang sedang tak berwarna Di suatu kota Benarkah aku kembali dengan rasa yang sama Sedikit kecamuk berputar dan bercampur aduk Mempertanyakan setiap langkah yang berjalan Untuk memulai bertualang bersamanya Sampai aku ada pada takut akhirnya Kita terjebak pada kecanggungan Hingga diripun sulit tuk menyembuhkan Dari luka karna saling yang terbenam Namun petualangan yang takan pernah berputar Takan mampu menghentikan langkah perlahan kedua kaki Sampai ia tahu dimana pijakan ini kan berhenti Perjalanan hanya satu cara menggenggam asa Kita hanya takan mau tuk melepasnya N...

Aku

Aku pada ketidakaturan Penuh majas yang terangkai Meruncingkan dari kata yang ada Menggantinya makna dari kalimat yang tertanda Aku berdiri diujung tanda tanya Terselipnya beberapa koma Sampai ia bercerita Titik dua tak berujung apa apa Sampai semuanya terangkai Satu demi satu abjad menjadi kata Kata menjadi frasa Frasa menjalin makna Mengungkapkan dibalik rasa yang tertata Berkata ditumpu dibalik ketidakmampu Seolah bibir tak sanggup tuk menyapa Karna ia terbujur kaku, dan lalu membeku Lama lama logika ku bertanya pada rasa Entah untuk apa siapa dimana dan mengapa Pertanyaan yang berujung nanti Mendapati jawaban karna tidak tahu

Kamu dan Malam

Kamu adalah malam Diam dan dingin itu kamu Angin lebih rendah hatinya Secara perlahan ia mendekap Dan lalu menyapa Meskipun dingin datang bersamaan Tapi dinginnya itu bukan datang dari angin Itu kamu Yang membiarkan puisi puisi ini Tertuliskan sampai ribuan kata Berujung pada tak tau tuk apa dan mengapa Apa kamu sama Merindu bersama waktu Tau ku pasti jawabmu Tetap pada kata utama Dan pura pura tidak tahu Rindu kini hanya frasa yang terlalu hiperbola Berlebihan saja Tapi ini makna dan rasa yang sebernya Tak lagi rekasaya

Halo Apa Kabar

Lalu saat pijakan terasa tak bertumpu Apa kabar pada kelabu Perlahan cerita sendu menguap Dari kemilau sore yang dirundung mendung Lalu apa kabar padanya senja Saat cahaya perlahan memudar di udara Tak tergoreskan bahkan hanya satu warna Yang ada hanya jingga dalam bayangan mata Lalu apa kabar padanya kata Mengikisnya ribuan abjad yang tersusun Seakan tanpa ada arti lagi yang terjahit Mengumpulkan satu persatu dibalik cerita Lalu apa kabar padanya hujan Mengenang cerita yang menggenang Rintiknya turun perlahan pada daratan Membasahi pikir yang telah dibuyarkan logika Lalu anginpun datang menyapa Tuk hanya sekadar menerima banyaknya rupa Dan angin membawa sebuah berita Tuk hanya datang berkunjung Dan berkata Halo lama tak berjumpa

Tersamarkan

Karna bila bulir banyak menggenang Tertanda ia menyampaikan cerita Tunggulah sampai rintiknya habis membasahi atapmu Perlahan mereka datang mengetuk Jendela kayu bersama kaca Menyapa bersama kata yang halus Dibalik rasa yang tertinggal mengudara Lantas bilau kau  mengeluh Pabila rintiknya tak berkunjung Duka yang kan kau rasa Karna ia tak hanya datang Meninggikan logika Makna membuyarkan sendirinya Lalu warna kan datang di akhir cerita Meski tak perlu kau menunggunya

Saat Rasa Mengait

dan tetibanya ia berhenti mencari jalan pulang di akhir cerita lalu ia bertanya pada jemari di ujung pangkal tali yang mengaitnya dari satu tiang pada tiang lain bukan kata yang ia dapat hanya saja angin menggiringnya tanpa arah yang tak menentu seorang tabib yang telah lama pergi datang da lalu ia menjawab tanya dari seorang lelaki muda anak yang terlahir dari rahim ibunya mentari terbenam di ufuk barat lalu kau masih ragu akan cinta yang tak bertuan cerita pilumu membelah rasa sepi saat perjalanan menuju semak belukar tak bertumpu pada temu

Dilema

Pada sekelompok kilau Cahaya yang memancar Jalanan bersemayam Bersembunyi dari angin yang datang Pikir berlalu lalang Lalang yang terdiam dari sepinya ramai Ramai yang terhalang kokohnya jarak Jarak yang membentangkan antara pikir dan bayang Dilema Ia bersahabat dengan carutnya kata Tertahan keraguan makna Yang mengikis dari ketidakasadaran rasa Lingkar berliku Memutarkan jarum jam pada arah yang sebaliknya Dan bergelombang dengan sendirinya Api nampak berkobar dalam bayang semu Tapi hujan datang sigap menyapanya Dan perlahan memadamkan kalutnya ragu