Direkt zum Hauptbereich

Satu Waktu di Tengah Malam



Dari ratusan detik yang tlah usai
Tunjukan masam terselimut jemari
Kaca tersayat tehembus gardu
Menyingsingkan rasa terdahulu

Aku datang membawa cerita
Membaca dalam tawa yang lalu berkunjung hanya karna satu kata
Aku bertanya tanya
Namun bukan pada rumput yang ditanam di belakang rumah tua

Lagi semua terjebak dalam logika
Menggantikan rasa
Di suatu senja yang sedang tak berwarna
Di suatu kota

Benarkah aku kembali dengan rasa yang sama
Sedikit kecamuk berputar dan bercampur aduk
Mempertanyakan setiap langkah yang berjalan
Untuk memulai bertualang bersamanya

Sampai aku ada pada takut akhirnya
Kita terjebak pada kecanggungan
Hingga diripun sulit tuk menyembuhkan
Dari luka karna saling yang terbenam

Namun petualangan yang takan pernah berputar
Takan mampu menghentikan langkah perlahan kedua kaki
Sampai ia tahu dimana pijakan ini kan berhenti

Perjalanan hanya satu cara menggenggam asa
Kita hanya takan mau tuk melepasnya
Namun senang selalu ada dalam kegelisahan
Hingga rindu menguap pada setiap hembusan

Dan rindu yang membawaku kembali
Biar ragu yang mengudara
bayangku lebih besar darinya
sampai semuanya berbeda
bukankah mencoba tak pernah ada salahnya?


Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tentang Kini

  Lama ku tak bersama sore Menikmati waktunya yang sekejap Mengalunkan senandung lagu Bercerita tentang kini Tentang kini Rasa yang perlahan memudarkan tanya Dari aku yang telah memulai untuk Kembali lagi membuka rasa Meskipun ketidaktahuan Membersamai apa-apa yang telah menjadi kini Menapaki hari esok selanjutnya Dengan pengharapan Aku tak tahu jika nanti Patah tumbuh kan hilang berganti Membedakan hari-hari  Dengan rasa yang tak lagi menjadi kini Yang aku tahu Hanya ada rasa saat ini Telah berhenti tuk berpatri Dan sedang ku nikmati

Just alive

  Mungkin ada banyak lagi aksara yang tak terbaca Masih banyak lagi lukisan yang tak pernah terlihat Banyak lagi irama yang tak terdengar Dan banyak lagi cerita yang tak terungkap Dewasa hidup pada hari-harinya dengan berjalan memutar Berotasi pada detik waktu yang terus berporos Meninggikan matahari dan lalu Menutupnya dengan malam yang gelap Dewasa kini hidup dengan rutinitas Seolah menjadi perangkap yang tak berujung Mendebatkan sisi idealis dan realis Lalu memberinya ruang kenyataan Apakah kini sesulit ini untuk bercerita? Seolah tak ada ruang untuknya bersandar Dewasa kini bukanlah tentang seberapa jauh melangkah Namun, tentang seberapa kuat ia bertahan Nyatanya dewasa kini ialah tentang kerapuhan Mereka hanya berpura-pura terlihat tampak baik Meski beban dibelakangnya melampaui batasnya Dan sialnya ia harus tetap memikulnya