Direkt zum Hauptbereich

Posts

Saat Rasa Mengait

dan tetibanya ia berhenti mencari jalan pulang di akhir cerita lalu ia bertanya pada jemari di ujung pangkal tali yang mengaitnya dari satu tiang pada tiang lain bukan kata yang ia dapat hanya saja angin menggiringnya tanpa arah yang tak menentu seorang tabib yang telah lama pergi datang da lalu ia menjawab tanya dari seorang lelaki muda anak yang terlahir dari rahim ibunya mentari terbenam di ufuk barat lalu kau masih ragu akan cinta yang tak bertuan cerita pilumu membelah rasa sepi saat perjalanan menuju semak belukar tak bertumpu pada temu

Dilema

Pada sekelompok kilau Cahaya yang memancar Jalanan bersemayam Bersembunyi dari angin yang datang Pikir berlalu lalang Lalang yang terdiam dari sepinya ramai Ramai yang terhalang kokohnya jarak Jarak yang membentangkan antara pikir dan bayang Dilema Ia bersahabat dengan carutnya kata Tertahan keraguan makna Yang mengikis dari ketidakasadaran rasa Lingkar berliku Memutarkan jarum jam pada arah yang sebaliknya Dan bergelombang dengan sendirinya Api nampak berkobar dalam bayang semu Tapi hujan datang sigap menyapanya Dan perlahan memadamkan kalutnya ragu

Dan

Pernah ku bertanya Seiring rupa dari kata yang tumpul   tak terbaca Merayu sedikit cerita Dalam hujan yang berjatuhan Mendenting pada kata Hingga makna tak sempat ada warna Titik terangkai setelah tanda koma Didapatnya di akhir cerita satu tanda tanya Pilu terbaca dengan terbata Bisu menjadi titik dua Tersembunyinya ungkapan Yang tertahan dibaliknya Tampak kasat oleh mata Lalu ia berkata Apakah hanya ada cerita hujan yang tertanam Atau kau sebut ia sayang dengan menggantinya menjadi senja Yang kadang kau nyanyikan dengan keresahan Dan bimbang pada kepiluan Suara angin mendesir Membawanya ia pesan dari ujung garis pantai Yang terbawa dan terhanyutkan Menggumpal menjadi rangkaian tebalnya air membeku menjadi awan Dan lalu perlahan menetes Lantas bila saja kau air hujan Kau takan ku biarkan jatuh pada bumi Hingga mereka mencarimu tuk membasahi yang pikir keringnya itu Biarkan kata itu terangkai dibalik padatnya gumpa...

Lalu

Secarik kertas Bersahutan padanya tinta hitam yang merekat Menggurat garis hitam lurus nan pekat Kata berbaris, terbangunkan darinya ribuan imajinasi Angin tampak datang mengetuk pintu Terlihat ia ingin menyapa dan mengatakan sesuatu Namun dengan sedikit tersipu malu Ia beranjak pergi berlalu Dan lagi Ku berkata dibalik derasnya hujan Yang tengah bersendu pada iramanya Memainkan notasi pada setiap butirnya yang beranjak turun  Membasahi teriknya sang mentari pada satu hari di suatu waktu Lalu setibanya hari di ujung senja Langit kelabu mengubah dirinya menjadi jingga Anginpun menggiring cahaya tuk segera sirna Tampak perlahan ia menghilang dengan sendirinya Lalu pada hari yang telah berlalu Kata per kata bergotong bersama royong Membentuk kalimat hingga bertahan pada   cerita Lalu pada yang telah berlalu Hitungan ribuan detik tak terhitung jumlahnya Kembali pada setiap urutan yang sama

Nada Yang Tak Tersentuh

Dialektika pada irama Berdentingan bersama satu nada Melarikan mayor Bersamanya diiringkan sedikit nada minor Nada yang terdengar Nada yang berirama Bergantian pada setiap baitnya Tersyahdukan Meninggikan tiap lariknya Meskipun ayal berbeda pada tiap rimanya Ia tetap berada pada satu nada Bercerita dalam satu rangka Nada yang terlantunkan Terdengar dalam Dari petikan keenam senar Bersamanya kau berimaji dengan jemari Terdentingkan piano putih di kamar tua Ia nada yang terlantun Tanpa ada suara yang mengiringi Namun ia berirama Coba kau dengar Nada yang riuh Berkelompok menjadi nada yang utuh Tak tersentuh

Guratan Satu Catatan

Cerita adalah catatan Catatan pada rangka halaman Halaman ganjil yang tergenapkan Genap dari rangkaian perjalanan Perjalanan yang penuh keramaian Ramai karna pilu diabaikan Diabaikan karna merindu tlah berlalu Berlalu sebab koma berada di depan tanda tanya   Tanya yang sampai kini tengah habis membelah isi cerita Cerita yang terguratkan dari satu buah pena Akankah satu lembar catatan terisi kembali Menguraikan tinta pada pena dengan sebab kata setelah koma Akankah catatan itu mengadah kembali pada permukaan Bersama asa yang telah lama padam pada basahnya hampa Lalu tanyapun mencuat kembali pada tandanya Entah pada ribuan kata mana yang menguat kembali Hingga tanda tanya terhapuskan dan digantinya dengan koma Belum lama sudah terpikir mengguratkan titik selepas tanda koma Namun aku lebih suka koma mengadah, Menjabarkannya sama halnya mengisinya dengan ribuan tanda tanya

Aku Binatang Jalang

Aku terlantar sampai ke tepian Berdiri di ujung kota dan menyepi Terpinggirkan bak tak dibutuhkan Aku hanyalah seorang jalang Yang tak ada seorangpun yang sudi memungutnya Atau hanya sekadar menghampiri tuk melirihnya Aku terlantar jauh ke tepian kota Bersemayam pada kerindangan Yang jauh dari riuhnya suasana kota Aku hanyalah jalang Yang terbuang Hanya tak sama lebih jauhnya dari seekor binatang Biarkan luka meradang Membakar tubuh yang menghitam Biarkan kulit mengerang Merasakan sakit sampai rasanya hilang tenggelam *terinspirasi dari puisi "Aku" karya Chairil Anwar