Direkt zum Hauptbereich

Dan




Pernah ku bertanya
Seiring rupa dari kata yang tumpul  tak terbaca
Merayu sedikit cerita
Dalam hujan yang berjatuhan

Mendenting pada kata
Hingga makna tak sempat ada warna
Titik terangkai setelah tanda koma
Didapatnya di akhir cerita satu tanda tanya
Pilu terbaca dengan terbata

Bisu menjadi titik dua
Tersembunyinya ungkapan
Yang tertahan dibaliknya
Tampak kasat oleh mata

Lalu ia berkata
Apakah hanya ada cerita hujan yang tertanam
Atau kau sebut ia sayang dengan menggantinya menjadi senja
Yang kadang kau nyanyikan dengan keresahan
Dan bimbang pada kepiluan

Suara angin mendesir
Membawanya ia pesan dari ujung garis pantai
Yang terbawa dan terhanyutkan
Menggumpal menjadi rangkaian tebalnya air membeku menjadi awan
Dan lalu perlahan menetes

Lantas bila saja kau air hujan
Kau takan ku biarkan jatuh pada bumi
Hingga mereka mencarimu tuk membasahi yang pikir keringnya itu
Biarkan kata itu terangkai dibalik padatnya gumpalan di langit
Karna ku tak mau satu tetespun tersampaikan
Dan berujung pada satu cahaya di akhir cerita

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna