Direkt zum Hauptbereich

Lalu




Secarik kertas
Bersahutan padanya tinta hitam yang merekat
Menggurat garis hitam lurus nan pekat
Kata berbaris, terbangunkan darinya ribuan imajinasi


Angin tampak datang mengetuk pintu
Terlihat ia ingin menyapa dan mengatakan sesuatu
Namun dengan sedikit tersipu malu
Ia beranjak pergi berlalu


Dan lagi
Ku berkata dibalik derasnya hujan
Yang tengah bersendu pada iramanya
Memainkan notasi pada setiap butirnya yang beranjak turun 
Membasahi teriknya sang mentari pada satu hari di suatu waktu


Lalu setibanya hari di ujung senja
Langit kelabu mengubah dirinya menjadi jingga
Anginpun menggiring cahaya tuk segera sirna
Tampak perlahan ia menghilang dengan sendirinya


Lalu pada hari yang telah berlalu
Kata per kata bergotong bersama royong
Membentuk kalimat hingga bertahan pada cerita
Lalu pada yang telah berlalu
Hitungan ribuan detik tak terhitung jumlahnya
Kembali pada setiap urutan yang sama







Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna