Direkt zum Hauptbereich

Berhenti Pada Manusia

 



Pernahkah kau berada diantara keramaian

Tapi kau tak mendapati dirimu di sana

Nyatanya kau justru terlempar jauh dari semestinya

Menemukan bahwa kau bukan manusia

Diantara manusia


Kau sebutkan hidup adalah perjalanan?

Lalu, apa yang kau maknai dengan perjalanan itu?

Setiap harinya kau mesti bergerak memutar roda

Menyeka keringat diantara keningmu

Sekedar hanya untuk memenuhi hasrat

Sebagai manusia


Nyatanya kita tak bergerak dalam perjalanan

Kita bergerak dalam pikiran

Menyelami luasnya ruangan itu 

Berusaha mencari jawaban

Tentang mengapa yang selalu menjadi tanya

Tanya pada manusia


Sudahi saja aku berhenti di sini

Kau tak perlu bertanya lagi

Tapi kurasa kurasa kau tak akan peduli

Mengapa sebagian orang tak kembali bermimpi

Tak dipedulikannya kesempatan atau waktu

Dan tak berharap lagi pada manusia




Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tak Kutemukan Kau

Jalanku bukan pada riwayat pencarianmu Setelah kembali memutar pikir dan rangkanya Menapaki setelahnya puluhan jalur baru yang tak diketahui tujuannya Kataku tidak kutemukan pada semua kalimatmu Setelah kubaca berulang dan menuntaskannya Tuk kesekian kali Tak terselipkan satu diksipun atas nama serupa Dari nama yang slalu kucari Pikirku selalu kembali Terbawa pada satu imaji Dari arah yang kutemukan dan kucari dalam setiap catatan yang kutuliskan pada secarik kertas saja Hanya memang mungkin sudah terlalu banyak guratan yang berulang Sampai kini aku tak berujung kembali pada pangkal cerita Aku hanyalah aku Yang tak bisa memaksa alur menjadi terkendali Lantas biarkan alam bergerak semestinya berjalan pada putaran rodanya Seperti cerita hujan yang semakin deras Saat kau tak keluhkan Rintiknya terdengar merdu bukan

Sabtu

Tangis, bahagia, rindu, kenangan Segala rasa berada pada ujung jakarta Tak terhitung lagi suara yang manusia dengar Tuk kembali pulang atau pergi menjemput jalannya Manusia berjumpa pada bandara Menghilangnya ramai dalam sendu Riuhnya pilu dalam aksara Terkungkung kini di hari Sabtu Inikah rasa menjemput takdir Tak lepas tanda tanya menjumpai akhir Justru ia semakin meraung Hingga lepas tak terbendung Bisa saja bandara lebih berharga daripada apa apa Atau mungkin berubah tanpa arti Dalam perjalanan manusia mencari makna