Direkt zum Hauptbereich

Bagaimana Jika Jodohmu Adalah Kematian?

 

Bagaimana jika

Jodohmu ternyata adalah kematian?

Bertemu dengan pujaan

Pada hari yang sebenarnya kau tunggu

Ia adalah nyata

Bahwa hari itu menjadi hari terakhirmu


Bagaimana jika ternyata

Jodohmu adalah kematian?

Seketika hilang sudah

Bayangan akan seorang yang rupawan

Yang kan menemanimu

Sampai salahsatu

Menjemput penghujung takdir

Bagaimana jika

Jodohmu ternyata adalah kematian?

Akankah kau bersiap menemuinya?

Sama halnya seperti janji yang kau ucapkan

Memantaskan diri demi jodohnya

Yang kau pikirkan bukankah ia cerminan diri?


Bagaimana jika ternyata

Jodohmu adalah kematian?

Atau kau hanya tak peduli

Dan yang kau pikirkan hanya hanya delusi

Ketakutan yang kau temukan

Hanya ketakutan

Bagaimana jika

Jodohmu itu kematian?

Yang menjemputmu dengan pasti

Sampai pada detik jam kau berhenti

Tapi tidak tampak raut bahagia

Dari wajahmu yang kering itu

Meski ia sambut kau dengan senyum

Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tentang Kini

  Lama ku tak bersama sore Menikmati waktunya yang sekejap Mengalunkan senandung lagu Bercerita tentang kini Tentang kini Rasa yang perlahan memudarkan tanya Dari aku yang telah memulai untuk Kembali lagi membuka rasa Meskipun ketidaktahuan Membersamai apa-apa yang telah menjadi kini Menapaki hari esok selanjutnya Dengan pengharapan Aku tak tahu jika nanti Patah tumbuh kan hilang berganti Membedakan hari-hari  Dengan rasa yang tak lagi menjadi kini Yang aku tahu Hanya ada rasa saat ini Telah berhenti tuk berpatri Dan sedang ku nikmati

Just alive

  Mungkin ada banyak lagi aksara yang tak terbaca Masih banyak lagi lukisan yang tak pernah terlihat Banyak lagi irama yang tak terdengar Dan banyak lagi cerita yang tak terungkap Dewasa hidup pada hari-harinya dengan berjalan memutar Berotasi pada detik waktu yang terus berporos Meninggikan matahari dan lalu Menutupnya dengan malam yang gelap Dewasa kini hidup dengan rutinitas Seolah menjadi perangkap yang tak berujung Mendebatkan sisi idealis dan realis Lalu memberinya ruang kenyataan Apakah kini sesulit ini untuk bercerita? Seolah tak ada ruang untuknya bersandar Dewasa kini bukanlah tentang seberapa jauh melangkah Namun, tentang seberapa kuat ia bertahan Nyatanya dewasa kini ialah tentang kerapuhan Mereka hanya berpura-pura terlihat tampak baik Meski beban dibelakangnya melampaui batasnya Dan sialnya ia harus tetap memikulnya