Direkt zum Hauptbereich

Senja di Menganti

 



Lantas aku memulai perjalanan minggu lalu dengan pertanyaan yang selalu muncul tentang bagaimana dan apa tujuanmu itu sebenarnya. Pertanyaan yang terbawa pada perjalanan jauh, meskipun tidak lebih jauh dari perjalanan lainnya yang pernah aku rasakan. Perjalanan panjang yang menyenangkan, meskipun sebagian lainnya terlihat melelahkan. Namun, bukankah kita semua menyukai setiap perjalanan? Sepanjang apapun, selama apapun, perjalanan selalu membawa kita menuju hal baru yang membawa pada imajinasi berbeda.

Perjalanan lain biasanya kerap mengantarku pada kata-kata yang kususun rapi menjadi sebuah puisi. Rangkai cerita dari apa yang terlihat dan dirasa dibalik episode pada alurnya. Lalu mengapa banyaknya kata yang tertanam itu tak mengalir menjadi bait-bait layaknya cerita di hari sebelumnya.

Rasa itu hanya menjadi satu waktu yang diberi nama jeda. Jeda yang menjadi alasan atas tak kembalinya semua keramaian pemikiran dan perasaan.

Diujung perjalanan minggu lalu itu, jalan mengajakku pada pesisir selatan pantai. Ia bernama Menganti. Satu kemilau keindahan yang tersembunyi. Keindahan pada mahakarya sang Kuasa. Menganti tak membiarkanku merangkai kata untuk menceritakan setiap sudutnya, ia hanya memberikanku kesempatan untuk menikmati angin yang berhembus dengan iringan ombak yang bernyanyi pada satu notasi nada dan menggiring pada pikir lain yang menjadi sedikit filosofis.

Senja di Menganti hanya menyuruhku berhenti sejenak, terdiam, lalu meminta sedikit tersenyum. Jangan pernah lupa pada cerita yang akan kau lalui nanti, nikmati saja.








Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tentang Kini

  Lama ku tak bersama sore Menikmati waktunya yang sekejap Mengalunkan senandung lagu Bercerita tentang kini Tentang kini Rasa yang perlahan memudarkan tanya Dari aku yang telah memulai untuk Kembali lagi membuka rasa Meskipun ketidaktahuan Membersamai apa-apa yang telah menjadi kini Menapaki hari esok selanjutnya Dengan pengharapan Aku tak tahu jika nanti Patah tumbuh kan hilang berganti Membedakan hari-hari  Dengan rasa yang tak lagi menjadi kini Yang aku tahu Hanya ada rasa saat ini Telah berhenti tuk berpatri Dan sedang ku nikmati

Just alive

  Mungkin ada banyak lagi aksara yang tak terbaca Masih banyak lagi lukisan yang tak pernah terlihat Banyak lagi irama yang tak terdengar Dan banyak lagi cerita yang tak terungkap Dewasa hidup pada hari-harinya dengan berjalan memutar Berotasi pada detik waktu yang terus berporos Meninggikan matahari dan lalu Menutupnya dengan malam yang gelap Dewasa kini hidup dengan rutinitas Seolah menjadi perangkap yang tak berujung Mendebatkan sisi idealis dan realis Lalu memberinya ruang kenyataan Apakah kini sesulit ini untuk bercerita? Seolah tak ada ruang untuknya bersandar Dewasa kini bukanlah tentang seberapa jauh melangkah Namun, tentang seberapa kuat ia bertahan Nyatanya dewasa kini ialah tentang kerapuhan Mereka hanya berpura-pura terlihat tampak baik Meski beban dibelakangnya melampaui batasnya Dan sialnya ia harus tetap memikulnya