Direkt zum Hauptbereich

Yang Berbayang


Kau yang pergi dengan bayang
Meninggalkan jejak yang tak dapat terurai
Keras dan tak terbendung
Rasa yang menguat pada selipan suku kata
Yang tak mampu terdefinisikan dalam rangka makna

Kau yang pergi dengan bayang
Slalu hadir pada jiwa tanpa raga
Memenuhi setiap bayangan cerita
Tanpa satu kedipanpun yang terlewatkan

Kau yang pergi dengan bayang
Pada satu jalan cerita yang tlah dihapuskan
Namun, meradang pada satu cerita lainnya
Seperti satu rasa yang terukir pada guratan prasasti
Yang tak dapat dihanyutkan

Kau yang pergi dengan bayang
Dibalik kebodohan yang tertautkan
Berdiri pada kegelisahan dalam dentuman nafas
Yang berada pada ketidakaturan

Satu jejak yang tak terjejal
Menyisakan buntut yang terlalu panjang
Dan semakin panjang menjalar
Mengikuti dimanapun sudut kota yang tersisa

Yang ada hanya ratusan kata penyesalan
Yang tlah terlewatkan lebih dari ribuan detik
Tanpa tersisa satu kata lainnya
Yang ada hanya letusan ketakutan
Melewati satu garis yang tlah lama tak tersambung
Garis putih yang halus
Takan mudah untuk menemukan garis yang hilang entah kemana dan dimana

Satu bayang yang tlah meradang
Memenuhi isi di kepala
Membias dengan sendirinya
Membiarkan waktu sendiri memakannya
Sampai bayang itu menghilang
Namun kata lain biarkan berlalu mengulang

Masihkah ada rasa yang tlah pergi
Dari ribuan jalan cerita bak drama yang ada
Masihkah ada rasa cinta
Pada kata itu yang maknanya tergeserkan oleh ribuan kata tidak dan tidak
Dan bahkan lebih banyak lagi diartikannya dari kata konotasi


Kommentare

Beliebte Posts aus diesem Blog

Dengarlah, hanya itu yang sederhana

Sederhana saja ku hanya seorang penikmat diksi pada bait bait kata yang terkonotasi dengan bahasa yang terlarikkan pada satu intuisi yang berbunyi kata rindu pada setiap guratan baitnya mau kau dengarkan ini? Tak maupun tak apa Aku tak memaksa Hanya saja intuisi ini bernotasi kencang Selalu berujung dengan satu irama Walau tanpa satu kata yang kau bisa anggap nyata

Tentang Kini

  Lama ku tak bersama sore Menikmati waktunya yang sekejap Mengalunkan senandung lagu Bercerita tentang kini Tentang kini Rasa yang perlahan memudarkan tanya Dari aku yang telah memulai untuk Kembali lagi membuka rasa Meskipun ketidaktahuan Membersamai apa-apa yang telah menjadi kini Menapaki hari esok selanjutnya Dengan pengharapan Aku tak tahu jika nanti Patah tumbuh kan hilang berganti Membedakan hari-hari  Dengan rasa yang tak lagi menjadi kini Yang aku tahu Hanya ada rasa saat ini Telah berhenti tuk berpatri Dan sedang ku nikmati

Just alive

  Mungkin ada banyak lagi aksara yang tak terbaca Masih banyak lagi lukisan yang tak pernah terlihat Banyak lagi irama yang tak terdengar Dan banyak lagi cerita yang tak terungkap Dewasa hidup pada hari-harinya dengan berjalan memutar Berotasi pada detik waktu yang terus berporos Meninggikan matahari dan lalu Menutupnya dengan malam yang gelap Dewasa kini hidup dengan rutinitas Seolah menjadi perangkap yang tak berujung Mendebatkan sisi idealis dan realis Lalu memberinya ruang kenyataan Apakah kini sesulit ini untuk bercerita? Seolah tak ada ruang untuknya bersandar Dewasa kini bukanlah tentang seberapa jauh melangkah Namun, tentang seberapa kuat ia bertahan Nyatanya dewasa kini ialah tentang kerapuhan Mereka hanya berpura-pura terlihat tampak baik Meski beban dibelakangnya melampaui batasnya Dan sialnya ia harus tetap memikulnya