Direkt zum Hauptbereich

Posts

Tanda Baca

Aku baru menyadari satu hal Setelah dari banyaknya lelah Dan waktu yang terlewati secara perlahan Dan berulang   Tanya yang selalu mengudara Bersama pikir logika tanpa ditemani rasa Menyelipkan diujung kalimatnya Sebuah tanda di akhir kata setelah koma   Ia yang kusebut tanda tanya Yang selalu mencuat Tiap aku berhenti selepas berlari Dari hari hari yang telah terjadi   Ternyata aku dapat menyimpulkannya Bahwasanya cerita tak mesti berakhiran sama Ia dapat menjadi duka atau luka Tergantung pada bagaimana kita membaca intonasi kata   Koma, titik, tanda seru, titik dua Tak selalu bersama menyanding tanda tanya Aku baru paham Akan ada banyak tanda baca yang terguratkan Di setiap halaman cerita

Kabar Dari Malam

 Bolehkah aku bercerita tentang malam Saat sore berlalu melambaikan jingga Perlahan meredup mengganti warna Kini, kemilau cahaya kota terhilat mengkilap dari balik jendela Hitam di udara Merekah merongga pada garis lintang Menyilap bola mata dan menyulap lukisan indah karna lampu kota menjadi kata-kata yang berfrasa Lalu, dingin mengetuk Memberikan salam pada siapapun yang ditemuinya Mengantar dingin dari sekedar biasanya di musim kemarau yang panjang

Mencari Arah

  Aku berjalan bersama ketidakaturan Menyusuri belukar pertanyaan Sebab dari ketidaktahuan Dan kebodohan   Manusia bertanya tentang Apa mengapa dan bagaimana Setelah rangkaian berproses Yang berujung sampai raga tak bernyawa   Hari berpacu bersama waktu Melupakan dentingan jam yang bergegas Berburu sampai ia tidak ada bekas Sampai berada pada dimensi yang tak berbatas

Senja dan Kota

  Senja dan kota menghantarkan halaman berikutnya dari lembaran yang tersisa pada buku yang belum terbaca Jingga di ujung cahaya perlahan malam sedikit melambaikan jemarinya mengayunkan angin menutup kaca jendela Secangkir kopi menemani rasa dari frasa yang melambung menjadi asa hingga mereka mengudara dan  tak menyisakan lagi rupanya

Saat Juni Pergi

Tak ada lagi yang tersisa Di penghujung juni Yang orang sebut ramai Hujan berganti menjadi kemarau   Tak ada lagi pagi yang basah Saat jendela terbuka Oleh riuhnya angin Yang menyapa kala cahaya mentari bersua   Tak ada lagi rindu Yang mengudara Menyelipkan setiap rangkanya Bersama kata   Tak ada lagi yang tersisa Hingga semuanya pergi entah kemana Tanpa melepas sambut tangan Melambai jarinya Dan tak ada lagi Apa apa

Tanya

Ada yang ingin kutanyakan seketika Sebelum aku membuka halaman yang kau maksudkan Angka lima puluh empat Dua digit yang tertera Dari puluhan angka lainnya Yang kau tuangkan di dalamnya Seluruh curahan tentang isi hati dan kepalamu Aku masih tidak mengerti Tentu bukan dengan angkanya Yang kau pilih tuk menuangkan pikirmu Tapi dengan cara tersembunyi Yang telah kau beri tahu Di awal aku membaca kutipan kata-katamu Yang kau selipkan di minggu lalu Lalu  Apa kau akan menunggu Sampai aku benar benar selesai Dengan banyaknya kata Yang mungkin kau rangkai Menjadi bagian bagian utuh dan penuh Menjadi bagian yang teruraikan Dalam kebulatan

Lima Puluh Empat

Ada kalanya malam bersemi Tak satupun cahaya bintang ditemui diantara waktu manusia terlelap dan membelah sunyi Hanya hitam pekat yang kudapat Tampak tak ada tanda tanda pun darinya Suara dan kata yang melebur pada dentingan waktu Menyembunyikan seribu bahasa yang tampak nyata Namun bergaris semu Lalu aku mendapati pikir yang lalu lalang Berputar di atas kepala ini tanpa berbayang atau bersuara Hanya ada suara yang tak bermuara Perlahan yang tenggelam pada malam malam yang kian terlewati Aku sempat menuliskan sesuatu yang aku sebut guratan yang tertatan pada helaian kata yang kudapati tadi Entah apapun yang orang simpulkan Dan yang aku bingungkan manakala satu simpul yang tumpul dan berada pada alasnya Aku selesai Dan kau dapat temukan aku di halaman lima puluh empat Hendak pabila kau menyempatkan membaca buku bersampul coklat muda yang ku sempat selipkan pada tasmu