Direkt zum Hauptbereich

Posts

Cinta Rumit

  Cinta bagiku kini seakan rumit Ia bukan hanya saja tentang rasa Melainkan kata yang tersusun Merangkai menjadi satu dengan kerumitannya Mungkin aku telah usai berkompromi dengan cinta itu sendiri Menghadirkan rasa ke dalam karsa Mengulang romatika bersama de-ja-vu Mengulang kembali cerita walau dengan manusia yang berbeda Apakah dapat kataku ini putus asa Sebab selalu menjumpai kegagalan pada cinta Memang ku merindukan cinta Ia yang menghangatkan pagiku dengan asa Setiap kali aku menghela napas panjang Bagiku kini, cinta adalah rangkaian Perjalanan yang datang tanpa perlu ia meminta Tak pula ia memaksa Biarkan saja ia hadir menyapa JIka memang ia adalah cinta Ia takkan pernah menjadi rumit

Yakinkan Saja

  Yakinkan saja Bila itu yang kau sebut dejavu Berikanlah titik di akhir paragrafmu Selesaikan tanda bacanya Jangan kau berikan koma Mulailah satu kata pada kalimat baru Yakinkan saja Kelak ketika kau tak mampu berdiri Berpijak pada tumpuan kakimu Menopang beratnya tindih Tak mampu membawa beban tuk berlari Menghindar dari luka lama Perlahan saja Yakinkan saja Saat sore di tengah guyuran hujan Pelangi kan menyambut malam Meski tampak gelap kan lebih cepat datang Mungkin saja malam kan hangat menyambutmu Dengan senyumnya melalui bulan yang terang Namun jika kau tak yakin Biarkan saja pikir itu bersamamu Semua kan mengerti dan mewajarimu Bisa saja akupun tak yakin

Kau Jakarta

  Kau Jakarta Ramai memberi riuh Lalu lalang manusia dan polusi Rintang terbentang Memberi ruang distraksi Kau Jakarta Menyisihkan kotor Menghidupi perut kelaparan Berebut mereka demi sesuap nasi Tak peduli dengan apa itu suci Kau Jakarta Birumu pergi Hijaumu sulit didapati Kau hanya hitam Membumbung legam di udara Kau Jakarta Inginku merindu Tanpa sebab Tanpa kata Hanya tentang rasa Aku jatuh cinta, Jakarta

Sore Syahdu

Kala itu di penghujung hari Hujan semarak ramai Membasahi sore bulan Januari Membawa sedikit hangat berbalut kosakata resolusi Angin tampak hilir mudik mendayu-dayu Pepohonan nan daunnya seolah menikmati itu Bersama iringan burung-burung menyanyi Berkicau dalam alunan musikalisasi Matahari yang tiba di petang Tersenyum, walau tampak kan meredup Tak tampak awan hitam setitikpun Berkerumun dan menutupi sinarnya Sore syahdu, begitu orang menyebutnya Waktu yang lengkap bagi remaja bergenre indie Secangkir kopi atau hanya sekedar teh saja Sembari menuliskan kata-kata menjadi bait puisi

Desember

  Malam terdengar lebih sunyi Angin mengantarnya kembali menjauh Tak peduli hujan telah jatuh Rembulan tak kunjung redup Desember datang membawa dingin Lebih dari sekedar suasana Kehangatan menjadi suatu yang dirindukan Namun ia tak lebih disukai halnya hujan desember Baru saja aku terbangun Menyadari seorang dewasa yang tak begitu menyenangkan Kala terbawa mimpi menggapai kebebasan Terhempas begitu saja dalam rutinitas Jika hanya tentang merenung Tulisan dan kata telah mampu kususun Merangkaikannya menjadi bait berirama Mengartikan kosakata menguraikan makna

Pertama dan Terakhir

  Kala itu desember Waktu beranjak di penghujung tahun Menyisakan detik yang kan berputar kembali Kemarin telah pergi dan tak pernah ada lagi Aku kembali menyendiri Melalui tulisan sambil berkontemplasi Menikmati secangkir kopi Saat hujan membasahi langit sore Kau sering sebut semua-semua itu refleksi Merenung jauh ke belakang Menarik nafas perlahan ke dalam Serta jauh membuangnya terhempas Tak ada yang menarik bagiku selama ini Sampai tetibanya kau datang kujumpai Menghidupku melalui sebuah pengharapan Menyisakan sedikitnya aku dan pengandaian Nyatanya semua kembali menjadi cerita yang sama Cerita lama yang pernah ku temui di penghujung tahun lainnya Kau mudah datang lalu mudah kau pergi Menggenapkan kisah pertama dan terakhir

Kembali Pada Desember

  Kembali ke desember Menepi singgah sejenak Menapaki jejak jejak Yang tak ingin berankak melangkah Kembali ke desember Menanti irama air hujan Bernyanyi membunyikan not Di atap atap rumah Kembali ke desember Melepas realitas yang kan pergi Membalikan ribuan detik yang telah lalu Menandai maknanya Dan kini aku berdiri dalam desember Tuk kesekian kalinya ku hirup udaranya Aku selalu menyapanya hangat Meskipun ia tetap dingin